Jumat, 26 September 2008

KESABARAN KEDUA TELINGA




Seorang ayah dan anaknya yang baru diwisuda dari Perguruan Tinggi ternama duduk-duduk dalam teras depan rumah.Diamatinya burung-burung yang hinggap silih berganti diantara pepohonan. Si anak yang berhasil meraih predikat Cumlaude terus bercerita dengan keberhasilannya itu dengan rencana-rencana berikutnya.Sang Ayah mendengarkan dengan tekun cerita dan inspirasi penuh haru sekaligus bangga. Hingga tiba-tiba si anak berhenti bercerita karena melihat seekor burung prenjak hinggap di dahan depan mereka sambil berkicau.

Sang ayah bertanya kepada anaknya," Nak itu apa? . Si anak menjawab dengan kaget, '' Masak ayah tidak tahu, kalau itu burung prenjak

Lalu keduanya syik ngobrol lagi sementara burung prenjak itu masih ada disana. Di tengah obrolan itu sang ayah bertanya lagi," Nak itu, burung apa sih?'. Si anak kembali menjawab," Itu burung prenjak yah?.

Perbingangan dilanjutkan lagi,dan sia ayah kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama.

Si anak mulai kesal dan jawabannya hanya dua kata saja. "Burung Prenjak!". Hingga semakin sore si ayah terakhir bertanya pada anaknya," apa betul itu burung prenjak?" Maka dengan kesal si anak menjawab," Masak ayah tidak tahu itu burung prenjak, dari tadi saya sudah katakan bahwa itu burung prenjak, Ayah ini bodoh atau pura-pura bodoh!".

Mendengar itu si ayah tersenyum, dan berpamitan kedalam sebentar, Selang beberapa menit ayah datang dengan membawa buku diary yang sudah kotor dan lusuh. Diberikannya diary itu pada anaknya.

" Ketika itu aku dan Thomas anakku yang menginjak usia 5 tahun sedang duduk diberanda kami. Sewaktu aku bercerita ada seekor burung, Thomas bertanya apa yang hinggap itu, aku menjelaskan itu burung, lalu bertanya lagi burung apa, kujelaskan burung prenjak, Thomas bertanya tentang burung, makannya, rumah burung dan lain sebagainya.Tidak jarang si Thomas bertanya berulang-ulang untuk pertanyaan yang sama,Terbersit dalam hati kejengkelan tapi aku harus menahan diri karena disinilah aku melatih diriku dan berusaha terus mengasihi anaku," Penggalan kalimat itu dari tulisan sang ayah membuat sianak menitikan airmatanya, karena Thomas itu adalah dirinya sendiri.

PEMBELAJARAN

Telinga yang sabar akan mampu melatih setiap orang untuk sabar dan tangguh dalam menghadapi pergumulan hidup. dan dalam kelurga, apakah yang diinginkan anak-anak dari orangtuanya? Tidak lain kehadiran dan kesediaan kita untuk mendengar.

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda